/
/
9 Film ini Dilarang Tayang di Indonesia, Banyak Menuai Kontroversi

9 Film ini Dilarang Tayang di Indonesia, Banyak Menuai Kontroversi

9 Film ini Dilarang Tayang di Indonesia, Banyak Menuai Kontroversi
Film Fifty Shades Freed. Credit: Istimewa

Share

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram

Menonton sebuah film seringkali dijadikan kegiatan melepas penat setelah beraktivitas seharian. Dewasa ini, film-film luar negeri semakin banyak ditayangkan di Indonesia. Film tersebut sudah lulus sensor setelah melewati beberapa tahapan seleksi, sehingga bisa untuk disaksikan oleh penikmat film dalam negeri. 

Sementara itu, ada beberapa film luar negeri khususnya Hollywood, yang rilis setiap tahunnya, namun tidak dapat dinikmati karena tidak lulus sensor. Alasannya cukup beragam, tetapi kebanyakan film-film tersebut dinilai membawa pengaruh buruk pada penonton. Pengaruh buruk itu seperti, memberikan pesan negatif dengan membalikan fakta yang terjadi, menampilkan kekerasan ataupun terlalu vulgar. 

BACA JUGA: Ganja “Sang Flamboyan” dari Mulai jadi Alat Transaksi hingga Keperluan Medis dan Rekreasi

Berikut ini daftar 9 film yang dilarang tayang di Indonesia, yang telah dirangkum dari berbagai sumber.

1.

True Lies (1994)
Film True Lies (1994). Credit: Istimewa

Dirilis pada tahun 1994, film True Lies merupakan film laga komedi yang dibintangi Arnold Schwarzenegger dan disutradarai oleh James Cameron. 

True Lies merupakan salah satu film Barat yang mempunyai syarat untuk dianggap sebagai salah satu film action terbaik pada masanya. Karena film ini dibintangi aktor Arnold Schwarzenegger, nama yang sangat populer di masanya. Namun sayang film ini dilarang penayangannya di Indonesia, dikarenakan berpotensi menebar kontroversi. Sebab, mengidentifikasikan Islam sebagai agama ekstrimis atau teroris.

2. Schindler’s List (1993)

schindlerlist
Film Schindler’s List (1993). Credit: Istimewa

Sukses dalam acara Oscar dengan memboyong tujuh penghargaan di tahun 1994, nyatanya film Schindler’s List dilarang tayang di Indonesia. Terdapat alasan mengapa film ini dianggap tidak layak tayang, salah satunya menceritakan pembantaian umat Yahudi oleh Nazi pada jaman perang dunia kedua.

Karena film Schindler’s List mengandung unsur kekerasan serta mengangkat tema Yahudi yang notabennya, gosip yang sangat sensitif, maka dari itu film ini tidak dapat beredar di Indonesia. Meski demikian, Schindler’s List menjadi film terbaik garapan sutradara Steven Spielberg.

BACA JUGA: 2024, Jakarta Tidak Lagi Menjadi Ibu Kota Negara Indonesia

3.

fifty shades
Film Fifty Shades of Grey (2015). Credit: Istimewa

Unsur seks yang mendominasi film Fifty Shades of Grey ini, dilarang penayangannya di Indonesia. Tidak hanya film yang diangkat dari novel dengan judul serupa itu memberikan kesan begitu sadis dalam adegan ranjang.

Selain Indonesia, film disutradarai oleh Sam Taylor-Johnson, dilarang tayang di beberapa negara di dunia dengan alasan yang sama.

4.

noah
Film Noah (2004). Credit: Istimewa

Film yang tidak layak tayang di Indonesia selanjutnya yaitu Noah. Film yang berisi penafsiran Darren Aronofsky mengenai kisah hidup Nabi Nuh. Noah sendiri  menuai banyak kontroversi, terutama terkait penggambaran Nuh yang dianggap tidak sesuai atau membelot dari pedoman yang sebenarnya.

Film Noah juga dilarang tayang di negara-negara dengan mayoritas agama Islam di dunia.

5. Balibo (2009)

balibo
FIlm Balibo (2009). redit: Istimewa

Film Barat berjudul “Balibo” ini mengangkat cerita perihal mantan jurnalis senior, dalam upayanya mengungkap misteri sekelompok wartawan yang ditangkap. Lalu mereka dibunuh saat meliput invasi Indonesia ke Timor Timur pada tahun 1975. Film asal Australia ini akhirnya dilarang tayang di Indonesia untuk menghindari “pandangan negatif dunia” terhadap Indonesia.

ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia) dalam hal ini mendukung pelarangan tayang film Balibo, karena film ini dapat merusak hubungan Internasional antara Indonesia dengan Timor Leste dan Australia.

6. Dirty Grandpa (2016)

dirty granpa
Film Dirty Grandpa (2016). Credit: Istimewa

Dengan judul yang dinilai terlalu vulgar dan juga dibumbui adegan seksual yang frontal, membuat film Dirty Grandpa tidak lulus sensor dari Lembaga Film Indonesia. Film tersebut mengisahkan seorang kakek yang memiliki fantasi liar saat berlibur bersama cucunya. 

Pasalnya, dengan judulnya pun Dirty Grandpa dinilai dapat memberikan efek buruk bagi penonton Indonesia.

BACA JUGA: 24 Perusahaan Terlibat, Siapa Selanjutnya Menjadi Tersangka SPK Bodong Dinas Kesehatan Kabupaten Sukabumi ?

7. Suspiria (2018)

Suspiria
Film Suspiria (2018). Credit: Istimewa

Selanjutnya ada film berjudul Suspiria yang merupakan film horor supernatural Italia. Film bercerita tentang kelompok penari balet yang dikendalikan oleh sosok penyihir. Tidak hanya kisah sekte gelap dan banyak mengandung adegan dewasa, kata sadis sangat tepat disandang oleh film tersebut. 

Suspiria yang disutradarai oleh Dario Argento dan dirilis tahun 2018 ini, dilarang tayang di Indonesia.

8. Pocong (2006)

pocong
Film Pocong (2006). Credit: Istimewa

Tidak hanya film luar negeri, film lokal pun pernah dilarang tayang di bioskop-bioskop Tanah Air, salah satunya film horor berjudul ” Pocong “ yang disutradarai Rudi Soedjarwo dan rilis pada tahun 2006 silam. Film ini gagal tayang di Indonesia dari forum sensor film (LSF) bukan dengan alasan horor sadis saja, film ini lebih kontroversi. 

Pocong film yang disutradarai Rudi Soedjarwo ini, dianggap mampu membuka luka usang perihal kerusuhan 98, dan juga menyinggung unsur SARA. Tidak hanya itu beberapa adegan pelecehan seksualnya dengan sangat brutal, dan masih banyak adegan-adegan sensitif lainnya.

9. Murudeka 17805 (2001)

murudeka
Film Murudeka 17805 (2001). Credit: Istimewa

Film yang merupakan hasil kerja sama antara rumah produksi Jepang dan Indonesia ini, mengangkat kisah usaha kemerdekaan Indonesia dari sudut pandang Tentara Kekaisaran Jepang. 

Murudeka 17805 menceritakan bahwa pihak Jepang yang mendidik Indonesia dalam hal kedisiplinan. Salah satunya pergerakannya adalah membentuk tentara PETA (pembela tanah air). Salah satu adegan yang digaris bawahi yaitu dimana seorang perempuan tua mencium kaki tentara Jepang.

Film ini banyak menuai kontroversi di kalangan masyarakat Indonesia, karena mengangkat luka lama. Akhirnya pihak LSF (lembaga sensor film) harus melarang film yang disutradarai oleh Yukio Fuji ini tayang di bioskop-bioskop Indonesia.

Dwiki

Redaktur

Dwiki

Redaktur