/
/
90% Startup Indonesia Gagal Berkembang, Jokowi: Tidak Sesuai Kebutuhan Pasar

90% Startup Indonesia Gagal Berkembang, Jokowi: Tidak Sesuai Kebutuhan Pasar

Presiden Jokowi saat peresmian BUMN Startup Day 2022 di ICE BSD City, Tangerang. Credit: Instagram/bumnstartupday

Share

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram

Perusahaan rintisan atau startup di dalam negeri telah mencapai jumlah ribuan. Namun, tak semua startup dapat berkembang dengan baik di Indonesia. Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyebutkan 80%-90% startup gagal saat merintis. 

“Hati-hati 80% sampai 90% startup gagal saat merintis,” kata Jokowi saat peresmian BUMN Startup Day 2022 di ICE BSD City, Tangerang, Senin (26/9/2022) kemarin.

Dari jumlah kegagalan tersebut bukan tanpa sebab, sebanyak 42% startup kandas karena tidak ada mengikuti kebutuhan pasar. Presiden Jokowi mengingatkan, kebutuhan masyarakat menjadi pokok utama untuk merintis usaha. Alasan lain dari gagalnya bertahan adalah 29% startup kehabisan dana, 23% karena susunan tim, 19% kalah kompetisi, dan 18% karena permasalahan harga.

Terkait persoalan dana, pemerintah berharap dengan hadirnya perusahaan modal ventura milik BUMN bisa menjadi jawaban dari permasalahan tersebut. Dengan begitu perusahaan startup diharapkan bisa memenuhi kebutuhan pasar dan menangkap peluang yang ada di Indonesia. 

“Ini nanti fungsinya venture capital, fungsinya BUMN agar ekosistem besar yang ingin bangun ini saling sambung sehingga terdampingi dengan baik,” ujar Jokowi

Dalam catatannya, Jokowi mengatakan 23% startup masih berkecimpung pada bidang teknologi finansial, 14% startup pada bidang ritel, sedangkan 4% bergerak di bidang agrikultur. Menurut Jokowi, banyak peluang terbuka untuk membangun startup pada bidang agrikultur.

“Kalau dilihat urusan masalah krisis pangan ke depan ini akan menjadi persoalan besar yang harus dipecahkan oleh teknologi itu adalah kesempatan,” ujar dia. 

Beragam sektor yang dinilai Jokowi banyak bersentuhan dengan pangan, seperti produksi, distribusi, hingga pasar. Selain itu, pada sektor pangan melibatkan petani, nelayan, pelaku pasar, hingga rumah tangga. Untuk urusan pangan tidak terbatas pada komoditas beras saja, masih ada peluang pada komoditas sorgum, singkong, sagu, dan lainnya. 

“Di sini ada peluangnya semua, dan yang namanya urusan pangan, ini kan tidak hanya urusan beras saja. Komoditas yang lainnya banyak sekali,” katanya. 

Maka dari itu, Jokowi mengingatkan bagi para pelaku startup dan anak muda, kondisi ini menjadi kesempatan besar untuk mereka. Karena setiap harinya 19.600 orang di dunia yang mati kelaparan karena krisis pangan. 

Selain sektor agrikultur, Presiden Jokowi mengatakan adanya peluang untuk startup pada bidang kesehatan. Bahkan, Indonesia merupakan negara dengan 17 ribu pulau dan 514 kabupaten kota, sehingga berpotensi telemedicine (layanan kesehatan berbasis teknologi) hingga operasi jarak jauh terbuka lebar.

“Apa yang bisa kita lakukan agar kesehatan bisa lompat? Telemedicine (layanan kesehatan berbasis teknologi) bisa, disambungkan dengan operasi jarak jauh lewat aplikasi,” ungkap Jokowi mencontohkan.

Sedangkan, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir menginformasikan bahwa saat ini terdapat lima perusahaan modal ventura yang mendukung pertumbuhan ekonomi digital, yaitu BRI Ventures MDI, Mandiri Capital, Ventures, Telkomsel Mitra Inovasi, dan BNI Ventures. 5 perusahaan ini sudah berinvestasi pada 336 startup.

“336 startup yang kalau dilihat hari ini sudah banyak yang jadi soonicorn dan unicorn,” ujar Eric

Dwiki

Redaktur

Dwiki

Redaktur