/
/
Angka Pernikahan Usia Dini di Sulawesi Tengah Tinggi, Picu Jumlah Stunting Bertambah

Angka Pernikahan Usia Dini di Sulawesi Tengah Tinggi, Picu Jumlah Stunting Bertambah

sulawesi tengah
Pasangan remaja yang menikah ini diketahui saling bertemu di pasar malam dan saling menyukai hingga akhirnya sampai kepelaminan. Credit : Wargabanua/Instagram

Share

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram

Tak heran remaja berumur sekitar 14 tahun hingga 18 tahun memutuskan menikah di beberapa daerah, Sulawesi Tengah. Hal ini sudah menjadi tradisi untuk mengantisipasi pergaulan bebas anak muda di sana. 

Orang tua di Sulawesi Tengah tidak akan segan menikahkan anaknya ketika terlihat sangat dekat dengan lawan jenis. Keluarga menilai dengan menikahkan anaknya dapat melindungi martabat.

Salah satu contohnya dialami oleh Siti Narwiya, ia adalah seorang perempuan berumur 42 tahun, tinggal di Desa Pombewe, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. 

BACA JUGA: Anak Sering Tawuran, 3 Cara ini Perlu Orang Tua Tahu

Ia mencoba menahan saudaranya yang berencana menikahkan anaknya berusia 14 tahun lantaran video panas keponakannya itu beredar di masyarakat kampung. 

Namun upayanya itu hanya mendapatkan penolakan telak dari keluarganya. Walaupun ia sudah berusaha menjelaskan beberapa faktor dampak buruk pernikahan dini. Seperti potensi kemiskinan karena belum mempunyai penghasilan, belum siap hamil, dan potensi cerai sebab psikologis yang belum terbentuk.

“Saya dimusuhi. Saya cegah, dan kasih tahu mamahnya tidak boleh seperti  itu. Cuma saya yang dimarahi,” seperti dilansir Segimedia.id dari Tirto.id, Kamis (09/02/2023). 

Sosiologi Universitas Tadulako, Ritha Safitri menerangkan terdapat beberapa kendala dalam kehidupan sosial yang menyebabkan pernikahan usia dini. Antara lain putus sekolah karena tidak mempunyai biaya dan kekhawatiran orang tua mencegah pergaulan bebas. 

“Jika anaknya sudah kelihatan menyukai lawan jenis mending langsung nikahkan,” tuturnya. 

Berdasarkan data yang dikembangkan oleh Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) pada tahun 2015. Rata-rata menikah di umur 15-19 tahun, Sulawesi Tengah secara nasional menduduki posisi tiga. 

Selain dampak sisi sosial, pernikah dini berpotensi menambah angka stunting. Pasalnya terdapat dua kabupaten di Sulawesi Tengah yang memiliki angka stunting tinggi, yakni Kabupaten Sigi dan Parigi Moutong. 

Setelah mendapatkan laporan tersebut, Ketua Pusat Penelitian Kesehatan, Keluarga Berencana dan Stunting Universitas Tadulako melakukan penelitian di lapangan, ternyata bayi yang mengalami stunting itu disebabkan pernikahan usia dini.

Namun dibalik berbagai permasalahan yang disebabkan pernikahan usia dini, terdapat kelompok yang peduli dan ingin merubah mindset masyarakat Sulawesi Tengah soal pernikahan. 

Kelompok tersebut adalah, Lingkar Belajar Untuk Perempuan (Libu Perempuan). Salah satu anggotanya, Maya menerangkan saat ini yang menjadi target sosialisasi mencegah pernikahan usia dini ini adalah yang tertua pada lembaga adat. 

BACA JUGA: Peduli Sesama, PKS Kabupaten Sukabumi Berikan Donasi Untuk Pemulihan Gempa Cianjur

Menurutnya faktor kultural merupakan salah satu hal pendukung terjadinya pernikahan usia dini. 

“Mereka lah yang didengar di kampung, jadi tidak bisa disepelekan, harus dirangkul. Apalagi untuk melakukan penyadaran ini,” katanya. 

Libu perempuan juga terus mengamati anak yang sudah terlanjur menikah sehingga dapat melakukan treatment tertentu ketika anak tersebut hamil.

“Terutama yang sudah hamil. Kita pantau agar bisa berjalan baik persalinannya nanti. Jadi fokus kita di situ,” tandasnya.

Syahrul

Redaktur

Syahrul

Redaktur