/
/
Dosen Unair Melihat Publik Mulai Menyukai Dangdut dengan Lirik Bahasa Jawa

Dosen Unair Melihat Publik Mulai Menyukai Dangdut dengan Lirik Bahasa Jawa

Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga, Kukuh Yudha Karnata. Credit: Twitter/Kykarnanta

Share

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram

Penyanyi cilik Farel Prayoga akhir-akhir ini menjadi sorotan publik, setelah tampil di Istana Negara pada HUT-77 RI. Lagu berjudul ‘Ojo Dibandingke’ ciptaan Agus Purwanto yang dibawakan bocah kelas 6 SD ini, seketika menghipnotis Presiden RI dan tamu undangan untuk sejenak menikmati dan ikut berjoget.

Aksi memukau Farel saat melantunkan lagu ‘Ojo Dibandingke’, dinilai menjadi pertanda bahwa ada pergeseran cara publik dalam menikmati musik. Lantunan irama dangdut di oplos dengan lirik bahasa jawa, sekarang banyak dinyanyikan dan diperdengarkan oleh kalangan atas hingga pemerintah.

Hal tersebut diungkapkan oleh Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga, Kukuh Yudha Karnata.

“Musik berirama dangdut berbahasa daerah Jawa yang pada awalnya identik dinikmati oleh masyarakat kelas pekerja di daerah rural (pedesaan) dan suburban (pinggiran kota). Namun, kini juga hadir di depan masyarakat kelas atas atau pemerintahan, bahkan di situasi resmi, upacara kenegaraan, dan ternyata diapresiasi,” jelasnya dikutip dari laman resmi Universitas Airlangga.

Menurut dosen peraih penghargaan Kritik Film Terbaik dalam Festival Film Indonesia, salah satu faktor pergeseran selera musik ini disebabkan oleh musik dangdut tidak sebatas irama melayu dan berbahasa indonesia. Tetapi, irama campursari dan Bahasa Jawa Mataraman yang justru bisa diterima di level nasional.

Sejatinya setiap orang memiliki kemampuan memfilter dalam menerima karya atau lagu yang layak dikonsumsi pribadi maupun di ruang publik.

Dwiki

Redaktur

Dwiki

Redaktur