/
/
Ganja “Sang Flamboyan” dari Mulai jadi Alat Transaksi hingga Keperluan Medis dan Rekreasi

Ganja “Sang Flamboyan” dari Mulai jadi Alat Transaksi hingga Keperluan Medis dan Rekreasi

Ganja Sang Flamboyan dari Mulai jadi Alat Transaksi hingga Keperluan Medis dan Rekreasi
Ilustrasi tanaman ganja. Credit: Istimewa

Share

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram

Bertahun-tahun hidup bersama manusia, ganja yang sering disebut barang haram, hingga kini masih masuk dalam narkotika golongan I. Dimana Narkotika ini dikatakan sangat berbahaya, karena kadar daya adiktifnya sangat tinggi. Belakangan ini tanaman perdu liar tersebut sering digunakan untuk kebutuhan medis, bahkan dilegalkannya ganja di beberapa negara untuk destinasi rekreasi.

Ganja atau yang sering dikenal dengan sebutan mariyuana dengan nama latin Cannabis sativa. Tanaman ini, diperkirakan pertama kali berevolusi di dataran tinggi Tibet, Pegunungan Himalaya, daerah otonomi RRT (Republik Rakyat Tiongkok). Perkiraan ini, berdasarkan hasil analisis fosil serbuk sari dari para ilmuwan yang ditemukan.

marijuana himalaya
Ladang ganja di Pegunungan Himalaya. Credit: National Geographic

Lalu bagaimana ganja bisa ada di Nusantara?

Awal mula adanya ganja di Indonesia, ketika pedagang dan pelaut dari Gujarat India membawa ganja ke Aceh sekitar abad ke-14. Tanaman ini pada saat itu dijadikan sebagai alat transaksi perdagangan oleh orang Gujarat.

BACA JUGA: Anak Sering Tawuran, 3 Cara ini Perlu Orang Tua Tahu

“Ganja (menjadi alat transaksi barter) ditukar dengan rempah-rempah seperti cengkeh, kopi, lada, vanili, dan jenis lainnya,” ucap Inang Winarso Direktur Eksekutif Yayasan Sativa Nusantara.

warga himalaya
Ilustrasi warga Tibet. Credit: National Geographic.

Selama ratusan tahun, masyarakat Nusantara khususnya Aceh memanfaatkan ganja tersebut untuk kepentingan ritual, pengobatan, pertanian dan bahan makanan dalam kehidupan sehari-hari. 

Dan ini menjadi kebiasaan masyarakat Serambi Mekkah, menggunakan ganja sebagai bumbu penyedap rasa masakan. Seperti terdapat pada kuah beulangong, kari kuah bebek, bubur rempah ie bu peudah dan juga penambah nafsu makan.

Apakah habit mengkonsumsi ganja pada zaman dulu masih dilakukan hingga saat ini?

Jawabannya kemungkinan besar tidak dilakukan dan kemungkinan kecil masih dilakukan. Hal ini karena terbentur oleh Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika. Dimana undang-undang tersebut menjadi landasan untuk mencegah dan memberantas Narkotika yang sangat merugikan dan membahayakan kehidupan masyarakat, bangsa, dan negara.

BACA JUGA: Kasih Doping Ganja pada Merpati Biar Terbang Tinggi, 3 Pria Asal Bandung Ditangkap

Namun, bagi masyarakat yang kemungkinan masih mengkonsumsi ganja saat ini, menjadi praktik kucing-kucingan dengan pihak berwajib, yang pada akhirnya jika tidak taat pada aturan akan di bui. 

Irwan (bukan nama asli) 45 tahun mantan pengguna ganja bercerita kepada segimedia, bahwa ia mempunyai pengalaman saat bekerja di Aceh. Menurutnya disana budaya mengkonsumsi mariyuana dengan cara dibakar masih dilakukan. Mungkin budaya yang masih melekat sangat sulit untuk ditinggalkan.

Ia juga mengklaim pertama dan terakhirnya mengkonsumsi ganja adalah di Aceh. Tapi kebiasaan itu cukup lama irwan jalani sekitar 5 tahun. 

“Ya awal-awal karena udah sedekat itu sama pemuda setempat. Makin kesini jadi kebiasaan setiap sore, biasanya tuh dilahan itu (tanaman perdu yang tingginya hampir 2 meter) rebahan dibangku kayu, sambil melepas senyum. Yang jangan dilupa tuh biasa sambil bakar-bakar sampah buat kamuflase, kurang lebih gitulah,” ujarnya

Ia pun tahu resiko hukum akibat dari kebiasaannya tersebut. Namun, setahun sebelum kontrak kerjanya habis dan harus pulang dari perantauannya ia berhenti hingga saat ini. 

“Setaun sebelum kontrak abis ya harus berenti, itu udah dipikirin sebelumnya. Udah sepuluh tahun aman-aman aja gak nagih,” tutupnya.

BACA JUGA: Generasi Z Berani Menikah di KUA, Sifat Gengsi Mulai Ditinggalkan

Beberapa negara sudah melegalkan ganja secara medis maupun untuk rekreasi, bagaimana dengan Indonesia?

Thailand menjadi negara Asia pertama yang menghapus ganja dari daftar obatan-obatan terlarang pada 25 Januari 2022. Bahkan Negeri Gajah Putih tersebut, memperbolehkan para penduduknya untuk menanam ganja di rumah dan langsung mengkonsumsinya sesuai dengan otoritas pemerintah daerah masing-masing. Dalam peredarannya pun harus ada lisensi resmi dari pemangku kebijakan.

thailand-tolak-turis-yang-datang-demi-ganja-ada-dendanya-3_43
Kafe ganja legal di Thailand. Credit: istimewa

Lalu, di Indonesia sendiri, legalisasi ganja masih menimbulkan sejumlah perdebatan panjang hingga saat ini. Publik Tanah Air berpendapat bahwa masyarakat Indonesia belum siap dalam pelegalan ganja. Namun, untuk kebutuhan medis masih perlu diriset dan diteliti serta regulasi yang dibuat harus ketat. 

Usulan tentang melegalkan ganja pernah terjadi pada 2020 di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta. Rafli Kande anggota Komisi VI DPR RI Fraksi PKS dari Aceh, dalam rapat dengan Menteri Perdagangan, melontarkan kepada pemerintah Indonesia tanaman ganja ini sebagai komoditas ekspor dalam pemanfaatan di dunia medis.

Ganja dari perspektif medis

Secara medis mayoritas para ahli mengungkap bahwa pengobatan menggunakan ganja banyak menolong penderita epilepsi, terapi untuk pengidap kanker, masalah kejiwaan dan nyeri kronis. 

Dengan statusnya yang masih ilegal hingga saat ini, sejumlah pasien di Indonesia diam-diam memanfaatkan ganja sebagai alternatif pengobatan. Contohnya nyatanya adalah Yeni Riawati istri dari Fidelis Arie Sudewarto, yang terbantu dalam menghadapi penyakit syringomyelia (kelainan pada sumsum tulang belakang). 

kanabisoilk2_1578307533
Minyak ganja untuk kebutuhan medis. Credit: Istimewa

Dokter ahli saraf, Ryu Hasan mengemukakan bahwa dalam berbagai riset menemukan, cannabinoid yang terkandung dalam ganja memiliki sifat perlindungan sel saraf, bukan merusak. Berbanding balik dengan molekul THC yang dikategorikan memiliki efek psikoaktif, dimana akan membuat mabuk, rileks atau fly “giting” jika dikonsumsi. 

“Setelah diteliti ternyata cannabinoid (zat yang terdapat pada ganja) bisa berefek memodulasi untuk sistem kekebalan tubuh atau imunitas. Bahkan, bagi penderita penyakit fatal seperti HIV, yang diberikan zat tersebut akan lebih tahan (memberikan imunitas pada tubuh) atau malah tidak tertular HIV,” kata Ryu, dilansir dari CNN.

“Dalam penelitian medis, potensi adiksi yang keluar (ganja) selalu ada. Namun, tidak pernah ada laporan yang menyebutkan bahwa seseorang sakaw karena ganja,” tambah Ryu.

Dwiki

Redaktur

Dwiki

Redaktur