/
/
Cerita Biara Zaman Hindia Belanda di Cicurug Dijadikan Proyek Ayam

Cerita Biara Zaman Hindia Belanda di Cicurug Dijadikan Proyek Ayam

Biara di Cicurug pada zaman dulu, Credit: ofm.indonesia.org

Share

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram

Siapa sangka Cicurug dibalik wilayah kecamatan dengan luas 4576,10 hektar terdapat sejarah yang terstruktur dan jarang sekali yang mengetahuinya. 

Mulai dari pembentukan nama Cicurug, terbentuknya kebudayaan dari segi agama, adanya pasar kemis dan peristiwa yang terjadi pada zaman Pemerintahan Hindia Belanda.

Semuanya akan coba diinformasikan satu persatu, demi melestarikan nilai-nilai sejarah di balik Kecamatan Cicurug yang terletak di Kabupaten Sukabumi ini.

Terdapat tiga orang Belanda yang berpengaruh. 

Orang Belanda saat berada di Gedung Kewedanaan Cicurug.

Cicurug dibagi menjadi tiga wilayah yang diduduki tiga orang Belanda yang sangat berpengaruh saat itu. Mereka dikenal oleh masyarakat sekitar sebagai Tuan Kaslen, Tuan Ben dan Tuan Han. 

Mereka dikirim ke Cicurug untuk menjadi tangan kanan Gubernur yang saat itu mulai kewalahan karena terlalu luas wilayah yang ia pegang. 

“Tuan Han berada di Purwasari, Tuan Ben di Nyangkowek, Tuan Kaslen di Cicurug. Dulu Lapang Caringin mereka buat peternakan rusa dibuat sedemikian rupa, sampai ada air mancurnya di tengah kebun itu,” terang Pengamat Sejarah Cicurug, JA Subagyo.

BACA JUGA: Pedagang Setuju Lokasi UMKM Alun-alun Cicurug Mengutamakan Warga Sekitar

Peradaban Kristen

Seminari Gereja Padua di Cicurug.

Tiga orang Belanda yang beragama Kristen Katolik tadi, mulai memikirkan untuk mendirikan gedung peribadatan di Cicurug yang saat itu belum ada. 

Atas dasar komitmen tersebut, berdirilah Gereja Padua atau sekarang disebut Gereja Khatolik Hati Maria Tak Bernoda yang berlokasi di Kampung Nyangkowek, Kelurahan Cicurug. 

Kemudian sekitar tahun 1910 mereka mulai mendirikan sebuah biara atau tempat sekolah Kristen di Kampung Legos, Desa Nyangkowek, Kecamatan Cicurug. 

ZA Subagyo menerangkan, diadakannya sekolah tersebut sebagai tempat penyebaran agama kristen di Cicurug. Tempat berkumpulnya seminari ini berdiri di atas lahan seluas 5 hektar persegi. 

“Sekolah itu dikelola oleh Umar Manus seorang pria yang berasal dari Mesir. Di Legos itu sangat luas sekali, itu dijadikan Sekolah Teologi,” katanya. 

Masuk Jepang 

BACA JUGA: Comeback! Francesco Bagnaia Juara Dunia MotoGP 2022 Usai Tertinggal 91 Poin

Setelah kalahnya Belanda dari Jepang, orang-orang Belanda yang berada di Kecamatan Cicurug mulai melarikan diri ke Jakarta. Namun masih ada beberapa orang yang memberanikan diri bersembunyi di Sekolah tersebut. 

Tokoh Kampung Legos, Muhamad Soleh (80 tahun) menerangkan, Jepang pun mengendus keberadaan mereka di Sekolah tersebut, kemudian tidak berpikir panjang membakar Biara ini. Namun dalam peristiwa itu gedung mengalami kerusakan di bagian atap sedangkan bangunan masih berdiri kokoh. 

Gedung Biara yang terletak di Legos, Cicurug.

“Akibat peristiwa itu gedung mulai kosong tidak berpenghuni. Sampai akhirnya para pejuang Indonesia menggunakan bangunan tersebut untuk bersembunyi,” terangnya. 

Masih Soleh, ketika pengeboman Hiroshima dan Nagasaki oleh sekutu Jepang mulai pergi dari Indonesia. Namun kondisi itu berbalik seperti semula ketika Belanda yang masih mengaku otoritasnya atas Indonesia. 

“Keberadaan para pejuang yang sering bersenyembunyi di Biara itu mulai diketahui, sehingga Belanda melakukan invasi ke tempat tersebut,” katanya. 

Kondisi bangnan yang rusak setelah diserang pasukan Belanda.

Biara bersejarah dijadikan Proyek Ayam

PT Peternakan Ayam Manggis unit 5

Tahun 1973 bangunan Biara di tempat tersebut mulai dirobohkan satu per satu dan dijadikan proyek ayam PT Peternakan Ayam Manggis Unit Broiler Breeder Farm V. Hingga saat ini yang masih tersisa hanya tembok penyangga patung. 

Ardi

Reporter

Syahrul

Redaktur

Ardi

Reporter

Syahrul

Redaktur