/
/
Sastrawan Terkenal Masa Hindia Belanda, Kwee Tek Hoay Mati Dirampok di Cicurug

Sastrawan Terkenal Masa Hindia Belanda, Kwee Tek Hoay Mati Dirampok di Cicurug

Ilustrasi Kwee Tek Hoay

Share

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram

Siapa sangkah penulis, jurnalis, bahkan sastrawan yang karyanya berkontribusi pada masa perjuangan bernama Kwee Tek Hoay sempat tinggal di Warung Ceurih, Kecamatan Cicurug.

Ia pindah dari Jakarta ke Kecamatan Cicurug, Kabupaten Sukabumi pada tahun 1935. Kedatangannya ini ia membawa perusahaan percetakan yang bernama Moestika Dharma yang didirikannya pada tahun 1932. 

Kwee Tek Hoay mati ditangan perampok pada tahun 4 Juli 1952 di Warung Ceurih. Saat itu kondisi Cicurug sedang tidak aman, banyak para perusuh dan perampok menyusup masuk ke wilayah ini. Mereka bergerilya keluar masuk hutan dan meneror penduduk setempat dengan merampok. 

Sebelum kematiannya, Kwee Tek Hoay diajak oleh sang istri bernama Oey Hiang Nio kembali ke Jakarta sebab kondisi kamtibmas Cicurug sedang tidak aman. Namun ia memilih tetap tinggal karena khawatir buku-buku hasil karyanya, percetakan dan perpustakaan dihancurkan oleh perampok. 

Setelah kepergian Oey Hiang Nio bersama tiga anaknya, Kwee Tek Hoay hanya tinggal bertiga di rumah tersebut, ia ditemani oleh 1 orang pembantu laki-laki dan 1 orang pembantu perempuan. 

BACA JUGA: Polisi Selesaikan Kasus Pelecehan Seksual Kolektor Koperasi dengan Kesepakatan Hutang Lunas

Kwee Tek Hoay pertama kali ditemukan tergeletak tak berdaya dan masih bernyawa di halaman rumah oleh salah seorang warga yang hendak mengambil air di sungai.

Seluruh tubuh Kwee Tek Hoay dingin, warga yang saat itu berada di lokasi mencoba mencari dokter terdekat namun tidak ada hasil. Akhirnya datang dokter dari Bogor namun nyawa Kwee Tek Hoay tak bisa diselamatkan. 

Ia menjadi orang pertama yang meninggalnya dikremasi secara tradisional atas permintaanya sendiri. Hal itu kemudian diikuti orang-orang Tionghoa. 

Semasa hidupnya di Cicurug ia sering kali mengajak teman-temannya untuk hadir ke rumahnya. Disana mereka menikmati sair-sair yang dibawa Kwee Tek Hoay sambil diiringi lantunan alat musik tradisional seperti kecapi, gambang, suling dan piano. 

Lagu karangan miliknya yang hingga saat ini masih sering dinyanyikan oleh umat Tridharma adalah berjudul Tridharma Gita. 

BACA JUGA: Pedestrian PSM Cicurug Dijadikan Tempat Parkir, Camat akan Berikan Sanksi Pemilik Toko

Di masa mudanya ia sempat tergabung dalam kelompok sandiwara Miss Intan yang saat itu cukup terkenal. Kelompok ini kerap kali tampil di beberapa yang terletak di Jawa Barat dan Jawa Tengah. 

Cerita yang diangkat dalam pertunjukan tersebut diambil dari karya novel Kwee Tek Hoay yang berjudul Drama Gunung Merapi, Drama Dari Krakatau, Drama Di Boven Dihoel dan Boenga Roos dari Tjiembang. 

Karya-karyanya ini sangat digemari masyarakat pada saat itu, bahkan salah satu karyanya diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Prof, Lea S. Williams, dari Brown University dan Universitas Cornell, dalam program East Asia Program, Modern Indonesia Project Series. 

Dalam karirnya, karya Kwee Tek Hoay  melanglang buana di beberapa perusahaan media ternama pada masa 1902 awal hingga 1932. Karya tulisnya sempat tayang di media seperti Li Po, Sin Po dan Bintang Betawi dengan inisial namanya KTH.

Karya novel yang paling terkenal berjudul Boenga Roos Dari Tjikembang. Novel tersebut diterbitkannya pada tahun 1927 yang terdapat 12 BAB di dalamnya. Buku ini menceritakan seorang manajer perkebunan yang harus meninggalkan sang kekasih tercintanya.

Ardi

Reporter

Syahrul

Redaktur

Ardi

Reporter

Syahrul

Redaktur