/
/
Lato-lato Dilarang di Lampung, Bupati Sukabumi akan Cek Seberapa Bahaya

Lato-lato Dilarang di Lampung, Bupati Sukabumi akan Cek Seberapa Bahaya

Pedagang Lato-lato di Pasar Semi Modern Cibadak. Credit: Istimewa.

Share

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram

Belakangan ini permainan Lato-lato yang memiliki karakteristik dua bola disambung sehelai benang dan dimainkan dengan cara diayun merajalela di kalangan anak-anak.

Permainan yang kerap meneror warga dengan suara khasnya terbuat dari plastik dan sering dipanggil Lato-lato.

Kepopulerannya semakin meningkat sejak Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) dan Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil memainkannya beberapa waktu lalu ketika berkunjung ke Subang. Ragam nama yang disemat permainan tersebut, seperti bolas, clakers, click-clacks, knockers, nok-nok, tok-tok dan lainnya.

BACA JUGA : ODGJ Coba Bunuh Diri Loncat Setinggi 12 Meter di Cibadak

Di era 1960-an, lato-lato sempat menimbulkan kegaduhan. Selain suara yang dianggap mengganggu, mainan ini juga kerap kali membahayakan. Pasalnya, luka yang ditimbulkan tidak hanya sekadar benjol, tetapi lato-lato juga bisa pecah ketika berbenturan dan menjadi serpihan yang tajam.

Bahkan di beberapa daerah seperti di Provinsi Lampung, para siswa di sana dilarang membawa Lato-lato ke sekolah karena dianggap mengganggu fokus belajar dan khawatir akan dijadikan senjata untuk berkelahi. Hal itu disampaikan oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Pesisir Barat Lampung, Edwin Kastolani Burta.

Disinggung mengenai hal tersebut Bupati Sukabumi Marwan Hamami berencana akan melakukan pengecekan terhadap kultur permainan baru ini.

BACA JUGA : MA Tolak Kasasi Herry Wirawan Pemerkosa 13 Santriwati, Komnas Perempuan Malah Kecam Hukuman Mati

“Nanti akan kami cek seberapa besar gangguan lato-lato ini terhadap proses belajar anak-anak, dan kita akan berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan,” singkatnya kepada segimedia.id, Kamis (5/1/2023).

Sementara itu, salah satu warga Cicurug, Nuraeni (39 tahun) berharap pemerintah Kabupaten Sukabumi mengeluarkan aturan untuk melarang siswa-siswi membawa lato-lato ke sekolah, lantaran dirinya khawatir anak-anak lebih fokus main lato-lato daripada belajar.

“Dengan adanya permainan itu saya khawatir disalah gunakan oleh anak, bahkan anak jadi tidak fokus belajar karena permainan itu,” tandasnya

Ardi

Reporter

Syahrul

Redaktur

Ardi

Reporter

Syahrul

Redaktur