/
/
Marak Pengusaha Jual SPBU, Bisnis ini Diduga Sudah Tidak Menguntungkan

Marak Pengusaha Jual SPBU, Bisnis ini Diduga Sudah Tidak Menguntungkan

Marak Pengusaha Jual SPBU, Bisnis ini Diduga Sudah Tidak Menguntungkan
Ilustrasi SPBU. Credit: MyPertamina

Share

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram

Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) belakangan ini diketahui marak dijual para pemiliknya dan diiklankan di platform jual beli online.

Bisnis tersebut sering dianggap masyarakat sebagai bisnis paling banyak menghasilkan keuntungan. Tampaknya memiliki bisnis SPBU saat ini, sudah tidak lagi menjanjikan untuk dijadikan sebagai investasi jangka panjang.

Penyebab dari bisnis SPBU menjadi tidak menarik lagi karena pengeluaran yang sangat besar, apalagi dari sisi Pajak Bumi dan Bangunan (PBB). Dari besarnya pengeluaran tersebut perhitungan untuk balik modal dari bisnis SPBU semakin lama.

Besaran investasi SPBU sekitar Rp 6 miliar hingga Rp 10 miliar, harga ini di luar harga tanah. Dengan nilai investasi tersebut beberapa tahun kebelakang, bisa balik modal sekitar 8 sampai 10 tahun. Jika untuk sekarang balik modal investasi bisa lebih lama.

Baru-baru ini Head of Advisory Services Colliers International Indonesia Monica Koesnovagril mengungkapkan, dari sudut pandang properti sebenarnya bisnis SPBU bukan yang paling cuan, sekalipun tempatnya di area strategis. Ia juga berpendapat fenomena SPBU banyak yang dijual karena terjadi atas pertimbangan optimalisasi lahan. 

BACA JUGA: Resmi, Pertamina Turunkan Harga Pertamax Jadi Rp 12.800, Pertalite Masih Bertahan

“Ini (SPBU) sebenarnya supply dan demand, karena banyak SPBU lokasinya di tengah kota yang harga tanahnya sudah mahal. Kalau kita bicara Jakarta, KLB (Koefisien Lantai Bangunan) sudah naik, jadi secara konsep optimalisasi lahan tersebut akan lebih optimal untuk dibangun yang lebih high-rise,” ungkap Monica Minggu (8/1/2023).

KLB (Koefisien Lantai Bangunan) itu sendiri adalah batas jumlah lantai atau tinggi bangunan yang boleh dibangun serta diatur oleh pemerintah. Monica menyayangkan jika lahan dengan KLB tinggi dan harga bagus hanya dijadikan SPBU saja.

“Harus banyak hal yang dipertimbangkan. Kalau lahan mahal dengan KLB tinggi, sayang kalau cuma dipakai SPBU,” ujar Monica.

Dilansir CNBC, khususnya di Jakarta ada beberapa SPBU yang dijual. Di kawasan Tanjung Priok Jakarta Utara dijual dengan harga Rp 35 miliar, di Duren Sawit dengan harga Rp 30 miliar. 

BACA JUGA: Harga 1 Liter Pertalite di Papua Barat: Pagi Rp 15 Ribu Malam Rp 30 Ribu

Di salah satu platform jual beli properti yaitu Lamudi, penawaran SPBU yang dijual lebih banyak lagi. Di Pantai Indah Kapuk Jakarta, dengan harga Rp 60 miliar. Sebuah SPBU di Kawasan Lebak Bulus, Jakarta Selatan juga dijual dengan harga Rp 30 miliar.

“Dijual SPBU Pertamina siap pakai kondisi bagus. Untuk pom bensin Cirendeu, Luas tanah ±1800m², Sertifikat SHM, tersedia Pertamax – Pertalite – Solar,” tulis salah satu penjual.

Untuk kawasan Kebon Jeruk tengah salah satu SPBU dijual dengan harga Rp 70 miliar, dengan luas bangunan 200 m2 dan Luas tanah 2143m, serta dengan surat lengkap sertifikat tanah dan SPPT PBB dan hak guna bangun. Yang terpenting Legalitas izin dari Pertamina lengkap.

Dwiki

Redaktur

Dwiki

Redaktur