/
/
Mengapa Banyak Bencana Alam di Indonesia Terjadi Pada Akhir Tahun?

Mengapa Banyak Bencana Alam di Indonesia Terjadi Pada Akhir Tahun?

Mengapa Banyak Bencana Alam di Indonesia Terjadi Pada Akhir Tahun
Ilustrasi bencana alam Gunung Meletus. Credit: istimewa

Share

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram

Sejumlah bencana alam besar di Indonesia berulang kali terjadi pada akhir tahun.

Belum lama ini 21 November 2022 lalu terjadi gempa di Cianjur yang menelan korban jiwa sebanyak 334 orang dan dilaporkan hingga saat ini ada 8 hilang tertimbun. Yang teranyar adalah erupsi Gunung Semeru dan gempa magnitudo 6,2 di Jember .

Berdasarkan catatan dari BNPB, beberapa bencana besar memang terjadi jelang atau saat akhir tahun. Seperti, gempa dan likuifaksi di Donggala pada 28 September 2018, lalu tsunami selat sunda Banten tanggal 22 Desember 2018, kemudian ada erupsi Gunung Merapi pada 5 November 2010, hingga tsunami Aceh pada 26 Desember 2004 silam.

Apa benar bencana-bencana besar di Indonesia memang sering terjadi saat akhir tahun?

Tanggapan BMKG Soal Bencana Akhir dan Awal Tahun

BACA JUGA: Jembatan Cikereteg Bogor Bakal Diperbaiki, Tapi Masih Dilintasi Kendaraan Berat

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan bahwa sebenarnya bencana alam, seperti gempa bumi, gunung meletus, dan tsunami secara teori bisa terjadi kapan saja dan di mana saja. Sehingga BMKG menghimbau pada masyarakat Indonesia patut waspada terhadap seluruh bencana.

Secara geografis Indonesia merupakan negara kepulauan yang terletak pada pertemuan empat lempeng tektonik yakni lempeng Benua Asia, Benua Australia, kemudian lempeng Samudera Hindia dan Samudera Pasifik. Dengan keadaan tersebut membuat Indonesia sangat rawan terhadap bencana alam.

Negara Indonesia pun terletak di daerah iklim tropis dengan dua musim hanya panas dan hujan. Dengan dua iklim tersebut bisa terjadi perubahan cuaca, dengan suhu dan arah angin yang cukup ekstrim. Keadaan ini berpeluang menghasilkan bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, kebakaran hutan dan kekeringan.

BACA JUGA: BMKG: Aktivitas Gempa Cianjur Terus Melemah, Warga Sudah Bisa Kembali Ke Rumah

Potensi-potensi bencana tersebut semakin besar karena sumber daya yang bisa mencegah musibah di Indonesia semakin berkurang. Jadi fungsi fisik lingkungan sangat berpengaruh untuk meredam resiko bencana.

Terlebih lagi, bencana-bencana alam yang akan terjadi tidak dapat diprediksi secara pasti kapan waktunya. Dalam kasus gempa bumi misalnya, US Geological Survey agensi ilmiah pemerintah Amerika Serikat, menjelaskan bahwa hingga saat ini belum ada teknologi yang dapat membantu para ilmuwan untuk memprediksi bencana secara tepat apalagi dengan akurat.

Jadi praduga bahwa banyak bencana alam terjadi pada akhir tahun sebenarnya tidak dapat dibenarkan dan juga tidak sepenuhnya benar. Merujuk pada data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) soal catatan bencana tahun 2021, secara jumlah terbanyak justru terjadi pada bulan Februari, Januari, dan Maret atau awal tahun.

Dwiki

Redaktur

Dwiki

Redaktur