/
/
Siap-siap El Nino Akan Menyambangi Indonesia, Potensi Musim Kemarau Kering

Siap-siap El Nino Akan Menyambangi Indonesia, Potensi Musim Kemarau Kering

Siap-siap El Nino Akan Menyambangi Indonesia, Potensi Musim Kemarau Kering
Ilustrasi kekeringan di musim kemarau akibat fenomena El Nino. Credit: Istimewa

Share

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram

Diperkirakan Indonesia akan mengalami musim kemarau yang kering di tahun ini akibat kedatangan El Nino.

Perkiraan musim tersebut, berdasarkan prediksi dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), terkait kedatangan fenomena El Nino yang akan membuat curah hujan semakin berkurang. Hal ini pun berpotensi terjadinya kekeringan hingga kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

“Dengan adanya prediksi ini (El Nino) artinya wilayah Indonesia berbalik mengalir ke Samudra Pasifik. Sehingga ini (Indonesia) akan menjadi kering karena aliran masa udara bergerak ke Samudra Pasifik,” Ujar Kepala BMKG Dwikorita Karnawati saat jumpa pers, Jumat (27/1/2023).

Dwikorita Karnawati menuturkan selama tiga tahun berturut-turut Indonesia mengalami musim kemarau yang basah. Bahkan curah hujan berlebih ini, di angka 70 persen bahkan sampai 100 persen akibat fenomena La Nina.

“Tadinya itu kemarau basah menjadi netral, yang artinya tidak basah lagi, selayaknya kemarau pada biasanya. Keadaan (normal) itu kurang lebih seperti tahun 2018. Berarti (di tahun 2023) lebih kering dari 2020-2022,” tuturnya.

BACA JUGA: Kasus Penculikan Anak Meningkat, Beberapa Situs Jadi Forum Jual-beli Organ Tubuh

Sejauh ini, Kepala BMKG mengungkapkan fenomena La Nina intensitasnya terus melemah. Terlihat dari indeks El-Nino Southern Oscillation (ENSO) di 10 hari pertama pada awal tahun ini mencapai 10,08 dan angka ini akan terus bergerak menuju netral.

Maret 2023 diperkirakan pergerakan Indeks ENSO tersebut akhirnya menjadi netral. Dwikorita mengatakan Kondisi ini akan bertahan hingga pertengahan tahun 2023.

“Kondisi ENSO di angka netral ini akan terus bertahan hingga pertengahan 2023. Jadi di bulan Mei hingga Juli itu indeksnya bertahan netral,” kata Dwikorita.

El Nino sendiri merupakan fenomena pemanasan Suhu Muka Air Laut (SML) di atas kondisi normal dan ini terjadi di Samudera Pasifik bagian tengah. Pemanasan SML tersebut menyebabkan potensi pertumbuhan awan di Samudera Pasifik tengah serta mengurangi curah hujan di wilayah tanah air.

“Singkatnya, fenomena ini (El Nino) memicu terjadinya kondisi kekeringan. Hal tersebut akan terjadi untuk wilayah Indonesia secara umum,” kutipan keterangan dari BMKG NTB.

BACA JUGA: DPMD Kabupaten Sukabumi Tengah Menggodok Beberapa Program Termasuk Skenario Pilkades 2023

Berapa lama sih fenomena El Nino? Dwikorita mengungkapkan untuk kondisi kemarau kering akan berlangsung hingga enam bulan ke depan. 

“Kondisi ini hingga enam bulan ke depan. Kita (BMKG) memprediksi sifat hujan bulanan di tahun 2023 ini akan relatif menurun. Jika dibandingkan curah hujan 3 tahun terakhir, Curah hujan bulanan saat ini relatif menurun,” ungkap Dwikorita.

Kepala Pusat Informasi Perubahan Iklim BMKG, Dodo Gunawan, menambahkan bahwa El Nino lemah berpeluang 50 persen hadir pada Juni hingga Agustus.

“Dampak kekeringan ya. Ini curah hujan berkurang. Kita harus mengantisipasi kekeringan, tapi insyaallah enggak panjang, Oktober semoga sudah selesai,” tambah Dodo Gunawan, dilansir dari CNNIndonesia.

Dwiki

Redaktur

Dwiki

Redaktur