/
/
Ternyata Ada 3 Bioskop di Cicurug Tutup Paksa, Diklaim Tempat Prostitusi

Ternyata Ada 3 Bioskop di Cicurug Tutup Paksa, Diklaim Tempat Prostitusi

Bioskop Ura Patria Kota Solo. Credit: pinterest.

Share

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram

Dekade 70 hingga 90-an silam ternyata berdiri gedung pemutar film atau bioskop di Cicurug, Sukabumi. Kalangan borjuis atau anak gaul pada waktu itu kerap nongkrong dengan berpakaian nyentrik di tempat tersebut. 

Terdapat 3 nama bioskop di Cicurug yang sempat melanglang buana mulai dari Bioskop Gempar, Bioskop Mega hingga yang terakhir Bioskop CT.

Mulai dari bioskop yang bernama Gempar, seharusnya bioskop tersebut kini berlokasi di samping klinik Dokter Heri atau di depan Outlet Target. Bioskop yang beroperasi selama satu tahun itu yakni dari tahun 1972 hingga 1973 menerapkan konsep yang cukup modern pada zamannya. 

Namun karena adanya penolakan dari warga sekitar bioskop yang dikelola oleh keluarga dari Ram Punjabi itu terpaksa tutup.

BACA JUGA: Merayakan 25 Tahun, Film Titanic Bakal Tayang di Bioskop Dengan Versi Remastered

“Yang pertama itu Bioskop Gempar lokasinya yang sekarang menjadi toko kelontong di depan Outlet Target, tapi tutup cuma setahun,” Ujar J.A Subagyo pengamat sejarah Cicurug kepada segimedia.id, Selasa (31/1/2023).

Berselang 3 tahun dari tutupnya bioskop tersebut, tepat di tahun 1975 kembali muncul tempat nongkrong baru bernama Bioskop Mega dengan menggunakan gedung yang sama.

“Setelah tutup, pada tahun 1975 muncul Bioskop Mega di tempat yang sama, waktu itu yang sering di putar filmnya Bing Slamet, Ateng Iskak dan fil Si Buta dari Gua Hantu yang diperankan oleh Ratno Timoer dan Maruli Sitompul,” jelasnya.

Namun hal yang sama terjadi pada tahun 1977 bioskop kembali ditutup karena adanya penolakan dari masyarakat sekitar yang berpikir bahwa bioskop tersebut sering dijadikan tempat maksiat

“Lagi-lagi bioskop ditutup karena mungkin masyarakat mengira tempat itu dijadikan tempat maksiat atau tempat  yang tidak baik,” bebernya.

Zaman terus berkembang, teknologi semakin maju. Memasuki era 90-an akhirnya bioskop kembali bercongkok lagi di Cicurug. Tempatnya bisa terbilang anti mainstream, bioskop tersebut berada di CT Pasar Cicurug. 

Bioskop ini hanya bisa bertahan selama satu tahun, lantaran masyarakat pada saat itu lebih memilih membeli kaset yang burning-an atau bajakan. 

BACA JUGA: PAN Kabupaten Sukabumi Target Amankan 8 Kursi di Pemilu 2024

Selain itu, bangkrutnya bioskop tersebut disebabkan terbatasnya teknologi perfilman pada zaman itu. Bahkan penayangannya masih menggunakan reel yang biasanya digunakan hampir tiga bioskop secara bergantian. 

Dengan keterbatasan itu, bioskop harus menunggu hampir 3 bulan kemudian untuk menayangkan film-film keluaran terbaru. Akibatnya, masyarakat lebih senang menonton film bajakan karena dapat mengakses dengan cepat film terbaru bila dibandingkan  dengan bioskop.

“Waktu itu sudah banyak film bajakan dan lagi di lantai 2 pasar Cicurug itu dijadikan tempat prostitusi, maka dari itu masyarakat sangat menolak,” tandanya.

Ardi

Reporter

Syahrul

Redaktur

Ardi

Reporter

Syahrul

Redaktur