/
/
Wacana Tarif KRL Bagi Orang Kaya, Pengamat: Esensinya Sebagai Angkutan Umum Ternodai

Wacana Tarif KRL Bagi Orang Kaya, Pengamat: Esensinya Sebagai Angkutan Umum Ternodai

Wacana Tarif KRL Bagi Orang Kaya, Pengamat- Esensinya Sebagai Angkutan Umum Ternodai
Kereta commuter line (KRL) melintas di Stasiun Manggarai, Jakarta. Credit: Merdeka.com/Magang/Muhammad Fayyadh

Share

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram

Pemerintah melalui Kemenhub berencana untuk membedakan tarif KRL bagi orang miskin dan orang kaya. Budi Karya Sumadi selaku Menteri Perhubungan memastikan tidak akan ada kenaikan tarif KRL saat ini sampai 2023 mendatang. Namun, ia menuturkan bahwa akan diberlakukan tarif baru bagi orang yang berpenghasilan tinggi.

Budi Karya mengatakan sistem subsidi yang diberlakukan saat ini untuk memastikan bahwa, yang menikmati tarif KRL murah adalah orang yang tepat sasaran. Ia juga mengklaim untuk masyarakat dengan ekonomi mampu akan membayar tarif KRL tanpa subsidi.

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi jumpa pers Akhir Tahun 2022 di Kantor Kemenhub, Jakarta, Selasa (27/12/2022. Credit: KOMPAS.com/Ardito Ramadhan

“KRL tidak naik Insya Allah sampai 2023. Tapi kita akan pakai data dari Pemda agar subsidi tepat sasaran,” ujar Budi dalam Jumpa Pers Akhir Tahun 2022 di Kantor Kemenhub, Jakarta, Selasa (27/12/2022) lalu.

Hingga saat ini yang bagi yang menggunakan KRL tarifnya hanya sekitar Rp4 ribuan untuk jarak minimal karena dibantu oleh subsidi jenis Public Service Obligation (PSO) dari pemerintah. Seharusnya, tarif yang sebenarnya adalah sekitar Rp10 ribu – Rp15 ribu. Budi mengatakan, kemungkinan tarif KRL bagi orang kaya akan dibedakan atau bisa jadi mendekati tarif asli dengan tanpa subsidi.

BACA JUGA: Dishub Kota Bogor Segera Umumkan Tarif BisKita, Ada Harga Khusus untuk Pelajar

“Bagi yang berdasi, dengan kemampuan finansialnya tinggi mesti bayarnya lain. Jadi kalau average (rata-rata) sampai 2023, kita rencanakan tidak akan naik ya,” ucapnya.

Dalam menanggapi hal tersebut Pengamat Transportasi sekaligus Dosen Teknik Sipil Universitas Indonesia Andyka Kusuma, memberikan pernyataan bahwa sangat menyayangkan wacana perbedaan tarif KRL yang akan diusung oleh Kemenhub.

DTSL_2-520x611
Andyka Kusuma Dosen Teknik Sipil Universitas Indonesia, memberi pendapat soal tarif KRL orang kaya. Credit: eng.ui.ac.id

Andyka berpendapat hal itu menyalahi filosofi angkutan umum, karena seharusnya angkutan umum itu harus dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat. Dan ini bakal muncul masalah baru berupa penyalahgunaan tiket serta akan menyulitkan operasionalisasi di lapangan.

BACA JUGA: Image Buruk Kebaya, Imbas dari Video Adegan Syur

“Filosofi angkutan umum itu harus dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat. Pada angkutan massal perkotaan, tidak ada kota di dunia yang membedakan-bedakan kelas (orang kaya atau orang miskin) perjalanan,” tegas Andyka.

Dilain tempat, Yayat Supriatna Pengamat Transportasi dan Tata Kota dari Universitas Trisakti menegaskan rencana perbedaan tarif KRL melenceng dari hakikatnya sebagai angkutan umum. KRL adalah angkutan umum yang bersifat inklusif atau angkutan untuk semua orang. Jika perbedaan tarif ini berlaku di masyarakat, esensinya sebagai angkutan umum ternodai.

Jika Menhub mengidentifikasikan bahwa kata ‘dasi’ itu sebagai metafora untuk menggambarkan golongan orang kaya yang harus membayar lebih, secara teknis hal tersebut justru sulit dilaksanakan. Sebab, Yayat menegaskan hampir tidak ada penumpang KRL di Jabodetabek yang menggunakan dasi. ia juga mempertanyakan berapa juta batasan penghasilan mereka, yang akan dikelompokkan sebagai golongan orang mampu dan siapa yang akan melakukan verifikasinya.

Dwiki

Redaktur

Dwiki

Redaktur